Rabu, 26 Juni 2013

RESENSI NOVEL "RONGGENG DUKUH PARUK"


“KEHORMATAN DIPERTARUHKAN DEMI CITA-CITA ”

 1. Judul Novel          : RONGGENG DUKUH PARUK
 2. Nama Pengarang  : AHMAD TOHARI
 3. Penerbit                : PT. GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA
 4. Tahun                   : 2011
 5. Jumlah Halaman    : 406 HALAMAN

 • LATAR BELAKANG NOVEL :
 Ahmad Tohari lahir di desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Banyumas, 13 Juni 1948. Menempuh pendidikan hanya mencapai SMTA di SMAN II Purwokerto. Novelnya yang pertama di Kaki Bukit Cibalak ditulisnya pada 1977. Kemudian kubah (PT. Dunia Pustaka Jaya) terbit 1980 dan dinyatakan sebagai karya fiksi terbaik pada periode tahun tersebut oleh Yayasan Buku Utama. Setelah itu, gramedia menerbitkan novelnya yang ketiga Ronggeng Dukuh Paruk (1981). Ahmad Tohari menerbitkan Novelnya yang keempat yang berjudul Lintang Kemungkus Dini Hari yang merupakan satu dari trilogi tentang dukuh paruk, karena kecintaanya terhadap alam pedesaan maka Ahmad Tohari selalu mengaitkan hasil karyanya dengan alam pedesaan seperti karya novelnya yang ketiga Ronggeng Dukuh Paruk yang diterbitkan tahun 1982 yang mengisahkan tentang penari ronggeng yang berama srintil dari desa yang terpencil dan kecil yang bernama dukuh paruk. Karyanya ini dianggap kekiri-kirian oleh pemerintah Orde Baru, sehingga Ahmad Tohari diinterogasikan selama berminggu-minggu, sehingga Ahmad Tohari menghubungi sahabatnya Gus Dur, dan akhirnya terbebas dari intimidasi dan jerat hukum. Setelah itu Ahmad Tohari kembali ke kampung halamanya dan kembali berada di tengah-tengah sawah di antara lumpur.

 • RESENSI NOVEL
      Novel karya Ahmad Tohari yang mengisahkan seorang gadis belia bernama srintil yang dapat mengembalikan semangat warga dukuh paruk. Sudah sekian lama dukuh paruk kehilangan ronggeng yang telah meninggal sejak dua belas tahun yang lalu bersamaan dengan beberapa warga desa yang juga menjadi korban akibat makanan tempe bongkrek yang mengandung racun. Bagi dukuh paruk yang merupakn daerah pedukuhan yang kecil, miskin, terpencil dan bersahaja itu memiliki pandangan positif dengan wanita yang berprofesi sebagai ronggeng. Dukuh Paruk menganggap bahwa ronggeng merupakan perlambang, sehingga dengan tidak adanya ronggeng sejak beberapa tahun terakhir membuat dukuh paruk merasa kehilangan jati dirinya sebagai dusun yang bersahaja. Srintil memang gadis yang memiliki bakat menari sejak kecil hingga ketika srintil sudah tumbuh menjadi gadis belia yang cantik dan memiliki pesona tersebut terlihat memiliki bakat menari. 
         Srintil dinobatkan menjadi penari ronggeng yang baru namun srintil tidak begitu saja dapat dinobatkan menjadi ronggeng, untuk menjadi ronggeng Dukuh Paruk srintil harus memiliki pusaka Keris Jaran Guyang, sehingga suatu ketika srintil mendapatkan pusaka Keris Kyai Jaran Guyang dari seorang pria yang sudah lama menyimpan hati kepada srintil, sehingga Rasus rela membohongi neneknya hanya untuk bisa mewujudkan impian wanita yang dikaguminya. Setelah srintil memiliki pusaka Keris Kyai Jaran Guyang tersebut srintil dapat mewujudkan cita-citanya menjadi seorang ronggeng, sehingga menjadikan srintil menjadi sosok yang amat terkenal dan digandrungi karena bakat dan pesona parasnya yang cantik. Sejak menjadi ronggeng banyak pria yang menginginkan srintil baik dari kaula pejabat- pejabat desa hingga kaula rakyat biasa. Sejak masalah politik pada tahun 1965 menimbulkan malapetaka menimpa Dukuh Paruk yang kecil, miskin, terpencil dan bersahaja tersebut. 
           Dukuh Paruk menjadi hancur baik secara fisik maupun mental karena kebodohan yang dimiliki warga pedesaan menyebabkan mereka terbawa arus dan divonis sebagai manusia-manusia yang telah mengguncang negara ini, bahkan dukuh itu dibakar dan dihancurkan bukan hanya hal buruk tersebut yang melanda Dukuh Paruk, bahkan banyak warga yang dibunuh dan ditahan, begitu juga dengan ronggeng beserta para penabuh calungnya ditahan. Semua warga yang ditahan diperlakukan secara semena-mena bahkan kekerasan pun banyak dirasakan warga yang mengalami penahanan, namun perlakuan khusus didapatkan ronggeng cantik yang bernama srintil, perlakuan khusus yang diberikan kepada srintil tersebut diperoleh karena kecantikan paras srintil yang begitu mempesona sehingga srintil mendapatkan perlakuan yang istimewa dibandingkan dengan para tahanan yang lain. Namun pengalaman pahit sebagai tahanan politik yang diterima srintil dan warga tersebut memberikan pengalaman yang berharga dan membuat srintil lebih menghargai harkat dan martabatnya sebagai seorang maunusia. Karena itu setelah bebas, ia berniat memperbaiki citra dirinya sebagai seorang manusia. 
          Pada awalnya srintil memang wanita yang kurang menghargai harkat dan martabatnya sebagai seorang wanita, sehingga setelah pengalaman pahit yang dialaminya menjadikan srintil sadar dan berusaha menjaga dirinya agar tidak lagi melayani lelaki manapun sehingga srintil bisa menjadi wanita somahan dan ketika bajus hadir kembali dalam hidupnya sepercik harapan timbul beserta harapan yang semakin lama makin mendalam, namun kenyata pahit kembali diterima srintil karena srintil kembali terempas, bahkan kali ini membuat jiwanya hancur berantakan. Bahkan tidak ada harapan sedikit pun sehingga membuat srintil menjadi gila karena diusianya yang masih dini dia harus menjadi milik banyak orang dan harus menerima kenyataan pahit bahwa rasus laki-laki yang dicintainya telah pergi meninggalkanya dan srintil hanya dapat membayangkan bayangan semu karena harapanya untuk hidup bahagia dengan rasus kini telah sirna dan kini srintil hanya menikmati kehidupan sebagai seorang ronggeng.
      Novel yang disusun ahmad tohari termasuk dalam kategori fiksi, namun dalam buku novel tersebut dikemas dalam bentuk nonfiksi, penggambaran dalam cerita tersebut yang diulas dari adegan satu dengan yang lain begitu terasa nyata seperti kisah yang terjadi pada saat itu. Adanya masalah politik yang digambarkan pada cerita tersebut membuat cerita tersebut menjadi lebih terlihat seperti kehidupan yang nyata. Adanya keterkaitan antara cerita rakyat dengan kehidupan nasionalisme membuat cerita menjadi lebih berwarna dan menarik meskipun cerita yang dimuat dalam novel menggunakan alur maju yang biasanya bersifat monoton dan membosankan tersebut jika diberikan perpaduan yang selaras akan menjadi cerita yang lebih menarik. Novel yang memiliki penggambaran cerita yang baik tersebut didukung dengan adanya penggunaan bahasa yang menggunakan tutur kata yang baik dan sesuai dengan ejaan yang disempurnakan tersebut membuat cerita menjadi memilik makna yang mendalam dan mudah untuk dipahami.
       Dalam novel tersebut disertai dengan penceritaan keadaan alam dukuh paruk yang terbentang hijau. Keadaan dukuh paruk dalam cerita novel tersebut diceritakan betapa asrinya dukuh paruk yang belum terkena dampak kecanggihan tekhnologi pada masa tersebut. Dalam novel ini gaya bahasa yang digunakan lebih kepada majas personifikasi. Beberapa keunggulan baik dari penggunaan bahasa yang digunakan dan kejelasan dalam penggambaran cerita dalam novel tersebut, ada kemungkinan kita akan terdiam ketika dihadapkan dengan kata-kata yang tercetak miring dalam novel. Penggunaan bahasa istilah seperti istilah dalam bahasa daerah ataupun bisa dikatakan bahasa jawa yang sering kita temui didlam novel misalnya senggot timbane rante, tiwas ngegot ning ora suwe dan sebagainya. 
        Penggunaan bahasa jawa yang digunakan dalam novel ini, tidak diberi arti maupun setidaknya catatan kaki. Misalnya pada lagu yang dinyanyikan srintil keseluruhan menggunakan bahasa jawa yang tidak mudah dimengerti. Kontras dengan wujud visual yang dikemas dalam sebuah film yang berjudul “Sang Penari”. Banyak yang berubah dalam penceritaan secara visual. Banyak perubahan baik dalam penggambaran cerita, alur cerita bahkan banyak bagian yang dihilangkan dari cerita novel dalam pengemasan cerita secara visual. Dalam novel digambarkaan bahwa srintil ditinggal meninggal orang tuanya sejak bayi. Namun dalam film digambarkan bahwa srintil ditinggal orang tuanya ketika srintil sudah menjadi anak-anak yang sudah dapat merasakan kepedihan yang mendalam ketika harus kehilangan orang tuanya. Banyak beberapa adegan yang diganti dan dihilangkan misalnya dalam film sang penari hanya terpusat pada kehidupan srintil sang ronggeng dukuh paruk, sehingga tidak menceritakan tentang terjadinya kekisruhan yang mengahancurkan desa dan kehancuran penyiksaan warga tidak digambarkan secara jelas dalam film, sehingga penonton bingung jika harus melihat film tersebut tanpa membaca novelnya terlebih dahulu.
      Penggambaran tentang masa srintil yang gila karena menghadapi masalah yang bertubi-tubi dalam hidupnya tidak digambarkan secara jelas didalam film. Sehingga penceritaan antara film dengan novel memang jauh berbeda. Sedangkan didalam novel dijelaskan bahwa srintil gila dalam keadaan dimana ia sedang dibawa oleh bajus yang merupakan kontraktor dari jakarta yang sedang bekerja di daerah dawuan. Dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk menggunakan alur maju yang rutut, sedangkan dalam film Sang Penari menggunakn alur mundur yang kemudian maju yang dapat terlihat dari penceritaan maju yaitu ketika Rasus yang pulang ke Dukuh Paruk setelah bencana tahun 1966 yang merupakan masalah pemberontakan yang tidak diceritakan secara rutut dalam film Sang Penari. Meskipun dalam cerita tersebut banyak terdapat bahasa yang susah untuk dipahami secara keseluruhan tetapi buku ini bagus dan sangat layak untuk dibaca dan dijadikan sebagai pembelajaran dan memotivasi agar generasi sekarang tetap menghargai adanya kebudayaan yang turun-temurun dan tetap melestarikan budaya bangsa dan tidak melupakan sisi positif dari cerita dan penggambaran kehidupan masyarakat tersebut.

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar